Panduan Penghayatan Paskah Seri IV – Apa, Kenapa dan Bagaimana BERPUASA?

Latest Comments

Apa, Kenapa dan Bagaimana BERPUASA?

Kita sedang menjalani 40 hari masa Prapaskah dengan berpuasa. Puasa sudah lazim menjadi laku ibadah dengan tidak makan atau tidak minum. Puasa juga bisa berpantang terhadap kesenangan atau berpantang terhadap perilaku buruk.

APA ? Puasa berasal dari dua kata bahasa Sansekerta, yaitu Upa dan Wasa. Upa adalah semacam prefiks (= awalan yang dibubuhkan pada sebuah kata dasar) yang berarti dekat. Wasa berarti Yang Maha Kuasa. (seperti umat Hindu Indonesia menyebut Sang Hyang Widhi Wasa). Jadi kata puasa yang berasal dari kata Upawasa adalah cara mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa.

Sebagai cara mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, maka puasa bukan hanya perilaku fisik belaka, bukan hanya menahan lapar dan haus, bukan hanya menahan kesenangan, bukan hanya mengendalikan diri terhadap perilaku yang nampak. Puasa itu sesungguhnya adalah laku spiritual mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, latihan rohani dengan latihan badani sebagai sarana yang mengingatkan.

KENAPA? Dengan puasa maka latihan hari demi hari itu akan menjadi kebiasaan sehingga sikap baru yang baik terbentuk dengan penghayatan kehadiran Tuhan Yang Maha Kuasa dalam hidup kita. Puasa menahan makan minum, sehingga dapat mengontrol emosi, pikiran, sikap, pilihan dan jalan hidup dalam kesadaran untuk mendekat pada Yang Maha Kuasa. Dengan kesadaran hadirnya Yang Maha Kuasa dalam hidup kita, maka setiap hal kecil dalam hidup kita perlu diperhatikan dan dikendalikan.

BAGAIMANA? Tuhan Yesus menekankan hal penting dalam berpuasa, dari pada sekadar menahan makan atau minum. “Apabila kamu puasa jangan muram mukamu seperti orang munafik” (Mat 6:6), tapi penuh kesadaran akan hadirnya Allah Yang Maha Kuasa karena “Bapamu melihat yang tersembunyi” (Mat 6:18). Jadi orang berpuasa seharusnya membangun sikap tulus menyelaraskan diri dengan kehendak Tuhan. Bila yang menjadi perhatian adalah hal-hal fisik yang nampak, maka hal rohani bisa terabaikan dalam puasa kita.

Memang puasa bukan ibadah yang wajib dan komunal melainkan ibadah yang bersifat sukarela dan pribadi. Karena itu penekanan puasa adalah tekad tulus yang muncul dari dalam diri, bukan karna aturan-aturan yang mengharuskan. Namun demikian, gereja perlu membimbing umat untuk berpuasa, gereja perlu memberikan panduan umat melatih laku spiritual secara pribadi. Sebab memang Tuhan juga mengharapkan kita berpuasa, sehingga menyadari tanggung jawab secara pribadi dengan Tuhan tanpa harus dinampakkan pada orang lain.

Selamat melanjutkan perjalanan rohani Prapaskah dalam 40 hari puasa. UPAWASA semakin mendekat Yang Maha Kuasa.

WhatsApp Image 2019-03-26 at 14.43.31

No responses yet

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *